Showing posts with label Cerpen Horor. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Horor. Show all posts

Friday, April 10, 2020

Lima Jam di Pantai Selatan







Lima Jam di Pantai Selatan
Karya:  Marthen Edison


Kamis (kliwon), 27 September 2018 09:10 WIB.

“Buka!” perintah Rika.
Van Jorg menatap Rika bingung, tidak mengerti.
“Bajumu!” Rika menunjukan kaos ketat yang menempel di tubuh kekar Van Jorg.
Van Jorg kembali menatap Rika, perlahan-lahan senyumnya mengembang dan matanya bersinar nakal.
“Aku tahu, cepat atau lambat kamu bakal menyukaiku. Kamu mau melakukannya sekarang? Di sini?”
“Sembarangan! Ih, jorok sekali pikiranmu! Kalau kamu bukan putranya Tante Joan, tidak akan mau aku menemanimu ke sini,” jawab Rika.
“Lalu, untuk apa kamu menyuruhku membuka bajuku?” tanya Van Jorg.
“Kita ini akan memasuki kawasan Pantai Selatan. Menurut cerita, Pantai Selatan daerah kekuasaannya Ratu Pantai Selatan bernama Nyi Roro Kidul karena itu para pengunjung pantai dilarang mengenakan baju berwarna hijau, warna kesukaannya. Baju kamu berwarna hijau makanya kusuruh buka, salin dengan baju berwarna lain,” ujar Rika. “Kamu itu walau berdarah campuran Indonesia tapi tetap saja isi otakmu liar seperti pemuda Belanda atau pemuda- pemuda barat lainnya, mesum.”
“Aku mana tahu. Lagian itu hanya mitos. Aku tidak percaya mitos,” ucap Van Jorg membela diri.
“Buka! Atau aku tunggu di sini, tidak ikut mengantarmu. Aku tidak ingin nanti ikut celaka karenamu,” kata Rika.
“Iya, cerewet!” Van Jorg bergegas membuka kaosnya. Tidak sampai semenit tubuh putih kekarnya sudah terpampang jelas memperlihatkan sepasang tonjolan dada bidang dengan hamparan bulu hitam lebat menghiasi permukaan dadanya sampai ke area perut six pack-nya. Dimasukan kaosnya ke dalam tas ranselnya seraya berjalan cepat mendahului Rika memasuki kawasan Pantai Selatan.
“Van! Kamu mau ke sana tanpa pakai baju?” Rika menyusul, menyelaraskan langkah mereka.
“Aku tidak bawa baju lain,” jawab Van Jorg singkat.
Rika terdiam. Van Jorg pun diam. Hanya suara langkah kaki keduanya menapaki pasir kasar yang terdengar. Dalam hati, Rika mengakui kalau ia juga salah tidak memberitahu Van Jorg sejak awal untuk tidak mengenakan baju hijau atau menyuruhnya membawa baju selain berwarna hijau sebagai cadangan. Putra sahabat kedua orangtuanya itu bagaimanapun hanyalah orang asing yang ingin mengenal keindahan Indonesia terlepas dari desas-desus mereka dijodohkan.
“Kamu tunggu saja di sini, aku ingin mengambil gambar di sebelah sana,” kata Van Jorg setibanya di Pantai Selatan.
“Ya, sebaiknya begitu. Aku juga risih jalan dengan pemuda bertelanjang dada sepertimu. Aku tidak mau jadi pusat perhatian orang walau hari masih pagi dan pantai masih sepi,” balas Rika.
“Kamu cemburu aku dilirik gadis-gadis?” goda Van Jorg.
“Idih! Amit-amit,” kata Rika walau sebenarnya diam-diam ia mulai tertarik pada wajah tampan dan pesona maskulin Van Jorg.
Van Jorg tertawa lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Sementara kakinya kembali diseret melangkah menjauhi Rika.
Pemandangan Pantai Selatan memang indah, tidak habis-habisnya kamera di tangan Van Jorg melaksanakan tugas mengabadikannya. Air lautnya yang bersih pun bergulung-gulung memukul bibir pantai seolah-olah memanggil Van Jorg untuk membasahi tubuhnya.
“Jauh-jauh dari Amsterdam, sungguh sayang kalau tidak kumanfaatkan waktu sebaik mungkin termasuk berenang di sini,” gumam Van Jorg seraya memandang ke arah Rika di kejauhan, bukan takut ketahuan niatnya hanya saja ia malas berdebat.
Merasa luput dari pengawasan Rika, Van Jorg melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan celana panjangnya. Sekejap tubuhnya hanya tinggal berbalut celana renang speedo hijau yang sudah dipakainya sebagai pengganti ‘dalamannya’.
Van Jorg baru menceburkan diri ke laut kurang lebih lima menit ketika ia melihat Rika di dalam air melambaikan tangan kepadanya untuk segera berenang mengikutinya ke sebuah lubang menyerupai pintu goa di bawah batu karang besar dekat pantai.
“Perempuan Indonesia memang suka kucing-kucingan, malu-malu tapi mau,” pikir Van Jorg senang sambil menyelam secepatnya mengikuti ke arah Rika menghilang.

*****

Kamis (kliwon), 27 September 2018 15:05 WIB.

Sudah lima jam lebih Rika bolak-balik menyusuri Pantai Selatan setelah menyadari Van Jorg terlalu lama pergi memotret sendiri. Namun, Van Jorg belum juga ia temukan.
“Awas saja kalau kamu kutemukan dan kamu sengaja melakukan ini padaku. Akan kubiarkan kamu pulang tanpa berpakaian, biar menggigil kedinginan,” kata Rika kesal disamping khawatir. Celana panjang Van Jorg  ditemukan gadis cantik itu terhampar begitu saja di atas pasir pantai bersama tas ranselnya, segera dimasukan Rika ke dalam tas ransel.
“Van!” teriak Rika memanggil untuk kesekian kalinya. “Van Jorg!”
“Kring ... kring!” Telepon seluler di tangan Rika berdering. Sebuah kombinasi nomor asing tertera di layarnya.
“Siapa lagi ini? Tidak tahu kalau orang lagi susah,” ketus Rika sebelum menjawab sambungan telepon. “Iya, halo!”
Selamat pagi Rika, Sayang,” sapa suara di telepon.
“Siapa? Sembarangan panggil-panggil aku ‘sayang’. Atau kamu baru habis mimpi ya, makanya bilang selamat pagi. Ini sudah siang menjelang sore.”
Ini Van, Van Jorg-mu, Sayang. Di Amsterdam masih pagi, aku baru saja bangun. Itu sebabnya aku mengucapkan selamat pagi. Oh, iya ... aku lupa kalau Belanda-Indonesia selisihnya lima jam, lebih cepat waktunya di Indonesia.” Van Jorg tertawa.
“Jangan tertawa. Kamu pikir aku lagi bercanda? Kamu di mana? Cepat ke sini, pakai pakaianmu dan kita pulang. Atau kamu mau kubuang pakaian dan tasmu ke laut Pantai Selatan?”
Apa?!” teriak Van Jorg, kaget.
“Kenapa kaget? Ada yang salah?”
Kamu masih di Pantai Selatan? Bukankah setelah kita bercinta di goa Pantai Selatan, kita segera pulang, ... lalu beberapa hari kemudian aku balik ke Belanda untuk mempersiapkan pernikahan kita?” tanya Van Jorg.
“Bercinta? Kamu gila. Sekalipun aku menerima perjodohan kita, aku tidak akan bercinta denganmu sebelum menikah. Dan kamu jangan mengada-ada, mengarang cerita, pura-pura kalau kamu sekarang sudah berada di Belanda. Buktinya pakaian, kamera, handphone, dan tasmu masih di sini.” Rika mulai geram. Kekhawatirannya yang sempat hadir kini berganti amarah, ia merasa dipermainkan Van Jorg.
Aku benar sudah di Belanda, Sayang. Ini aku lagi bersama mamiku. Kupikir aku memang tanpa sengaja ketinggalan ranselku serta semua peralatan fotografiku di sana,” kata Van Jorg.
Selamat pagi, Rika. Ini tante Joan, Sayang. Apa kabarmu?” Seorang perempuan menyela pembicaraan Rika dan Van Jorg melalui sambungan telepon di sisi Van Jorg.
“Apa?!” Giliran Rika menjerit tidak percaya. “Benarkah aku bicara dengan Tante Joan? Bagaimana mungkin?”
Tiba-tiba permukaan laut di hadapan Rika terbelah, membuat mata Rika kian terbelalak ‘antara masih ada atau sudah tiada’ kesadarannya.
Di belakang Rika, sesosok tubuh anggun seorang ratu berpakaian serba hijau, berdiri di dekat sebuah kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda putih bersih, tersenyum ke arah tubuh Rika yang mulai limbung jatuh pingsan tanpa pernah diketahui kehadirannya oleh Rika.

Kupang, 02 Oktober 2018 




Diterbitkan pertama kali oleh CV. Intishar Publishing lewat buku "Bisikan Pati", 2019. ISBN: 978-602-490-338-1

Saturday, June 16, 2018

Pengusung Keranda Hutan Malaka




Pengusung Keranda Hutan Malaka
Karya: Marthen Edison


Bayu mengucak-ngucak matanya menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menyetir mobil. Yanti asyik mengunyah ayam goreng bekal perjalanan mereka. Novi dan Dece duduk di kursi penumpang bagian tengah antara sadar atau telah terbang ke pulau mimpi. Demikian juga Ito, penghuni kursi penumpang paling belakang.
“Ada yang tidak beres,“ Bayu bergumam.
“Apanya?“ Yanti menyambung.
“Ini seperti bukan jalan menuju Malaka.“ Bayu kembali mengucak matanya dan sedikit memajukan badannya melihat keluar.
“Perasaanmu saja, Bayu. Mungkin karena sudah malam makanya kamu sedikit tidak terbiasa dengan rutenya.“
Bayu terbiasa melakukan perjalanan ke Malaka, kabupaten baru di Pulau Timor. Pekerjaannya sebagai sopir mobil rental membuatnya mengenali rute yang sering ia lewati dengan baik. Namun kali ini sebagaimana pengakuannya, perjalanan kami adalah perjalanan tengah malam pertama untuk ia mengantar penumpang ke Malaka. Sebenarnya rombongan kami akan berangkat pagi tadi bila jadwal meeting Dece di kantornya tidak berubah tiba-tiba. Kami tetap memaksa berangkat malam karena besok acara nikahnya Randy teman kami yang menyunting gadis Malaka.
“Kalau kamu memang ragu, kita tanyakan saja pada orang yang kita temui di jalan,“ Yanti memberi solusi.
“Mana ada orang masih berada di jalan tengah malam begini? Lagian ...,“ suara Bayu terdengar bergetar, mengkhawatirkan sesuatu.
Belum selesai Bayu melanjutkan kata-katanya, dalam jarak kurang lebih tiga meter di depan mobil mereka nampak serombongan orang tersorot cahaya lampu besar mobil. Rombongan orang tersebut terdiri dari delapan orang yang sedang mengusung keranda ditutupi kain hitam.
“Itu ada orang, kita tanya mereka.“ Bayu melambatkan laju mobil dan mulai menepi. Yanti menurunkan kaca pintu mobil di dekat duduknya.
“Pak, mau tanya. Ini benar jalan menuju Malaka?“ tanya Yanti dengan mulut masih mengunyah makanannya.
Pengusung keranda paling depan menatap Yanti, lalu ia menunjuk ke arah depan dengan tangannya yang tidak mengusung keranda tanpa mengucapkan sesuatu. Yanti tersenyum, berarti kekhawatiran Bayu tidak beralasan. Arah jalan mereka sudah benar. Yanti mengucapkan terima kasih kepada para pengusung keranda dan kembali menaikan kaca mobil.
“Lanjut, Bro!“ perintah Yanti pada Bayu.
Bayu pun kembali menginjak pedal gas melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, Bayu tetap merasakan ada kejanggalan. Jalan ini begitu sepi, tidak terlihat satu pun rumah penduduk di kiri maupun kanan jalan. Pohon-pohon besar menjadi pemandangannya. Suara pungguk terus terdengar ditemani embusan angin dingin. Belum lagi mereka baru saja berpapasan dengan rombongan pengusung keranda, tengah malam. Bulu kuduknya mulai merinding.
“Aduh ...!!!“ Serentak Yanti, Novi, Dece dan Ito mengaduh, kaget.
Mobil melalui jalan menurun dan berbatu. Semua penumpang kaget. Tidak terkecuali yang tidur. Mimpi buyar seketika. Bayu ikutan kaget. Ia tersadar dari analisa pikirannya akan segala keanehan.
“Bayu! Apa-apaan nih? Kamu tidur atau menyetir?“ Novi cemberut.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku tidak melihat kalau jalan ini menurun.“ Bayu menarik napas beberapa kali.
“Kita sudah tiba di mana?“ Giliran Dece bertanya.
“Kita tersesat. Aku yakin itu. Aku akan memutar mobil dan kita kembali ke pertigaan sebelumnya, pertigaan di mana terlihat ada beberapa rumah penduduk saat kita melewatinya dua jam lalu. Di sini hutan, bukan jalan biasa kulewati.“ Bayu meneruskan kalimatnya dengan segera memutar kemudi untuk berbalik arah.
“Benarkah? Bukankah orang-orang tadi menunjuk kalau arah kita sudah benar?“ Yanti memprotes.
“Mereka menunjuk, bukan berkata membenarkan. Kamu tidak merasakan ada keanehan? Wajah mereka pucat, mengusung keranda pula. Tengah malam, Yan, ....“
“Apa ...?!!!“ pekik Novi, Dece dan Ito.
Belum Yanti atau Bayu menjelaskan lebih jauh tentang para pengusung keranda, mobil terguncang oleh bebatuan jalan dan tidak dapat melaju naik.
Walau Bayu telah menginjak penuh pedal gas, kedua ban belakang mobil hanya berputar di tempat dan mulai membuat lubang di tanah becek. Rupa-rupanya gerimis mulai turun, membasahi jalan sehingga batu-batu besar penyokong jalan kampung belum diaspal itu menjadi makin licin. Bayu mematikan mesin mobil, kemudian ia membuka pintu mobil dan berjalan ke arah belakang mobil. Diambilnya beberapa batu lalu mengganjar kedua ban belakang mobil. Ito turun dari mobil membantunya.
Setelah dirasa cukup, Bayu kembali ke belakang kemudi dan mulai mencoba melaju naik. Tetap saja tak ada perubahan. Yanti, Novi, dan Dece bergegas turun. Ketiganya juga menurunkan bekal mereka untuk mengisi perut sementara kaum lelaki bekerja mengurusi mobil. Belum juga perbekalan dibuka, tiba-tiba angin bertiup lebih kencang. Petir berkelebat di langit, cukup menerangi tempat sekitar mereka beberapa detik. Mereka baru menyadari kalau mereka tidak sendiri. Dalam radius sepelemparan batu di belakang ketiga perempuan telah berdiri lima rombongan pengusung keranda berwajah pucat, sama seperti yang dilihat Bayu dan Yanti.
Serentak Yanti, Novi dan Dece berlari masuk ke mobil sambil berteriak histeris ketakutan.
“Lemparkan semua makanan itu keluar!“ teriak Ito dari belakang mobil.
Ito pun bergegas naik ke mobil. Lalu dengan sigap ia merebut semua makanan dari ketiga teman perempuannya yang masih histeris dan juga kebingungan tak mengerti dengan apa yang ia perintahkan. Ito melemparkan semuanya keluar.
Saat bersamaan Bayu memacu mobilnya untuk melaju di atas jalan tanjakan. Kali ini mobil mulus bergerak naik. Tanpa menunggu lebih lama, di puncak tanjakan Bayu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Semuanya berlangsung cepat. Mereka pun meninggalkan para pengusung keranda jauh di belakang.
“Aku masih belum mengerti, mengapa semua bekal kita dibuang? Dan siapa mereka sebenarnya?“ Pikiran jernih Dece mengajaknya bertanya.
“Kalian lupa dengan kepercayaan penduduk pulau ini? Tak boleh membawa makanan berupa daging-dagingan apabila menempuh perjalanan malam, apalagi daging mentah atau daging berdarah. Percaya tidak percaya, masyarakat sini mempercayainya turun-temurun. Barusan buktinya. Aku yakin, kelima keranda yang diusung oleh penampakan mahkluk astral penghuni hutan itu adalah keranda untuk kita.“ Ito menutup penjelasannya dengan berdoa.
“Untung ada kamu, To! Kamu masih mengingat cerita mistis itu. Aku sudah merasa ada kejanggalan. Benar, kejanggalan itu berawal dari ketika Yanti melahap ayam goreng,“ timpal Bayu.
Yanti ingin menanggapi kala namanya disebut Bayu tetapi ia mengurungkannya. Mereka baru saja kembali melewati tempat ia menyapa para pengusung keranda waktu ia menanyakan arah. Mata Yanti masih sempat menangkap bila di tepian jalan itu tampak delapan orang seperti tengah duduk istirahat menikmati ayam goreng. Keranda berkain hitam berada tak jauh dari mereka.


Kupang, 15 Desember 2016

Diterbitkan pertama kali oleh Penulis Muda Publisher lewat buku "Misteri di Sekitar Kita", 2016. ISBN: 978-602-633-356-8

Pekuburan Jam Dua Belas




Pekuburan Jam Dua Belas
Karya: Marthen Edison


Rian menarik napas lega. Rumah terakhir. Selesai sudah kunjungannya ke rumah warga-warga Desa Sikumana lokasi tempat tugasnya yang baru untuk minggu ini sekaligus memeriksa pasien-pasien rawat jalan. Kepalanya telah terisi wajah cantik kekasihnya. Ia dapat menepati janjinya kepada Ersa, weekend di kota. Secepat kilat dimasukannya stateskop, alat tensi, dan peralatan kesehatan lainnya ke dalam tas hitamnya.
Udin, anak sebelas tahun navigator alias penunjuk jalan Dokter Rian mengelilingi desa tampak masih semangat berbincang-bincang dengan Eyang Kapulingga, sang ‘dokter tradisional’. Dukun tua itu sebelumnya selalu menghalangi kehadiran Dokter Rian di desa tersebut. Adanya tenaga medis dianggap sebagai pesaing profesinya. Tidak heran bila para tenaga medis sebelumnya satu demi satu angkat koper – juga kaki, dari medan tugas. Seandainya tidak muncul nama Inaya, cucu Eyang Kapulingga sebagai pasien rawat jalan Dokter Rian, enggan pula Dokter Rian meluangkan waktu ke rumah sang dukun.
“Din, ayo kita pulang.” kata Dokter Rian kepada Udin.
“Baiklah Pak Dokter. Ayo!” jawab Udin.
“Eyang Kapulingga, kami pamit dulu ya ... cucu Eyang baik-baik saja, sudah semakin sehat. Terus minumkan obatnya sampai habis dengan air matang tiga kali sehari, pasti akan pulih. Tidak ada yang perlu dirisaukan.” Pamit Dokter Rian.
“Terima kasih, Pak Dokter. Tapi, maaf ..., “ Eyang Kapulingga tidak melanjutkan kalimatnya.
“Ada apa, Eyang? Apa ada yang ingin Eyang tanyakan atau dapat kulakukan sesuatu guna membantu Eyang? Kita patner kerja, bukan saingan. Jangan sungkan.” suara Dokter Rian tulus.
 “Bukan, ... bukan maksudku demikian Pak Dokter. Bukan juga maksudku tidak sopan menghalangi Pak Dokter pergi. Tapi, ini sudah jam dua belas. Sebaiknya Pak Dokter menunggu sebentar. Saya akan menyiapkan makanan, kita makan siang bersama sambil ...”
“Tidak usah repot, Eyang. Aku masih kenyang. Aku juga masih ada agenda lain.” potong Dokter Rian.
“Aduh! Bagaimana menjelaskannya ya?“ Eyang Kapulingga kebingungan sendiri.
“Menjelaskan apa, Eyang?”
“Udin, bantu eyang menjelaskannya pada Pak Dokter!”
“Jelaskan apa, Eyang?” Udin balik bertanya. Bingung.
“Jam dua belas, Din!” Eyang Kapulingga hampir teriak.
Udin mulai berpikir keras akan maksud Eyang Kapulingga.
“Oh, iya! Pak Dokter, ini sudah jam dua belas. Kita menunggu di sini saja dulu.”  Udin meraih tangan Dokter Rian agar kembali duduk.
“Tidak bisa, Din! Aku harus mengejar bus siang ini. Aku ada acara lain di kota.” Dokter Rian menepis tangan Udin.
“Tapi, Pak Dokter ....” Udin menunduk.
“Ini sebenarnya ada apa, sih?” Dokter Rian mulai hilang sabaran.
“Jam dua belas, Pak Dokter!” sahut Udin dan Eyang Kapulingga hampir bersamaan.
“Iya, ada apa dengan jam dua belas?” kejar Dokter Rian.
Udin dan Eyang Kapulingga saling pandang. Eyang Kapulingga memberi isyarat anggukan, mempersilahkan Udin untuk berbicara mewakili mereka berdua.
Hening sejenak. Masing-masing menunggu.
“Jam dua belas, Pak Dokter. Kita tidak bisa pulang melewati pekuburan desa. Kita akan celaka atau bernasib sial.” Udin memulai.
“Ha?! Mengapa begitu?”
 “Kami di sini mempercayai itu. Kami tidak boleh melewati area pekuburan desa antara jam dua belas sampai jam satu siang, saat matahari tepat berada di atas kepala. Sudah banyak kejadian aneh terjadi di sana yang dilihat warga. Seperti serigala hitam bermulut penuh tetesan darah, hantu wanita tanpa wajah,” lanjut Udin.
“Ya, ampun ...! Zaman sekarang masih percaya yang demikian? Itu cuma mitos. Aku beritahu ya ..., yang harus ditakuti itu manusia hidup. Manusia hiduplah yang dapat mencelakai kita; memegang batu melempari kita, atau sekalian menghunus pisau menikam kita. Kuburan apalagi serigala mana bisa memegang batu atau pisau? Lagian, kalau benar ada warga yang melihat hal-hal seperti cerita Udin barusan, aku yakin itu hanya halusinasi. Panas terik dapat memacu darah lebih cepat ke otak sehingga otak dapat memerintahkan organ lain bekerja di luar normal. Misalnya mata, melihat sumber air di gurun pasir padahal itu hanya fatamorgana, ilusi, atau apalah sejenisnya akibat cuaca panas.” bantah Dokter Rian.
“Tapi, Pak Dokter ....” Eyang Kapulingga mencoba menengahi pembicaraan.
“Maaf, Eyang! Tidak ada tapi-tapi! Aku dan Udin juga bisa cari jalan lain untuk kembali tanpa harus melewati pekuburan,“ ketus Dokter Rian.
“Tidak ada jalan lain, Pak Dokter.”  sela Udin.
Dokter Rian menatap tajam dua manusia lawan bicaranya. Ia mencoba menebak isi kepala mereka. Apa benar cerita mereka atau ini sekedar mengada-ada untuk menghalanginya pergi karena ketidaksukaan Eyang Kapulingga padanya. Bukankah tadi mereka berbincang-bincang sementara ia memeriksa Inaya? Ia manusia moderen, tidak mempercayai mitos atau legenda mistis. Mungkin saja mereka sengaja ingin menahannya lalu mencelakainya. Ersa. Ingatannya pada sang kekasih menghentikan semua dugaannya. Waktu terus berjalan.
 “Ayo, Udin. Kita pergi! Aku akan melaporkan kepada bapak Kepala Desa bila kamu tak pergi bersamaku sekarang.” Dokter Rian menarik tangan Udin.
Mendengar ancaman Dokter Rian, Udin membiarkan dirinya ditarik mengikuti langkah Dokter Rian. Tergesa-gesa keduanya meninggalkan kediaman Eyang Kapulingga dan cucunya tanpa berpamitan lagi.
Sepanjang jalan, Dokter Rian tetap saja menggandeng tangan Udin dengan sedikit memaksa karena ia merasakan langkah kaki Udin sengaja diberatkan. Dan Udin akhirnya benar-benar tidak melangkah lagi ketika berada di tengah pekuburan.
“Ayo, Din! Aku bisa terlambat sampai di terminal bus. Seandainya aku sudah terbiasa dengan jalan-jalan di sini, aku juga tidak akan merepotkan kamu.”
“Sebentar! Apa Pak Dokter tidak melihat apa yang ada di depan kita?”
“Apa?” Dokter Rian memalingkan wajahnya mengikuti arah jari telunjuk Udin. Tampak seekor makhluk berbulu hitam tengah tidur di atas sebuah kuburan.
“Hanya seekor anjing, Din.”
“Bukan, Pak Dokter. Aku yakin itu seekor ... se-serigala hi-hitam.” Udin terbata-bata, ketakutan.
“Omong kosong!” teriak Dokter Rian.
“Aku mau kembali ke rumah Eyang Dukun, Pak Dokter. Kita pulang setelah lewat jam tiga belas saja.” pinta Udin.
“Aku yang memerintah. Keputusan di tanganku!” bentak Dokter Rian, kesal.
“Aku mau ke rumah Eyang Kapulingga, Pak Dokter! Huuuh ...,” rengek Udin.
Mendengar rengekan Udin, Dokter Rian naik pitam. Darah di seluruh tubuhnya makin cepat mengalir ke otak.
“Ya, sudah. Kamu kembali saja sendiri. Aku akan tetap melanjutkan perjalanan melewati pekuburan sekarang!” geram Dokter Rian sambil mendorong tubuh kecil Udin sekuat tenaga.
“Akh ...!”
 Dokter Rian terkejut mendengar suara rintihan Udin. Akibat terdorong, Udin kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kepalanya terluka membentur sebuah batu nisan. Darah segar mengucur deras, membasahi makam di dekatnya terjatuh.
“Udin ...! Sadar, Udin!” teriak Dokter Rian.
Bergegas diperiksanya tubuh Udin. Jarinya ditaruh di depan hidung Udin ... tidak ada embusan. Diperiksanya nadi pergelangan tangan Udin ... tidak ada denyutan. Udin sudah tidak bernyawa.
“Udiiin ...!” jerit Dokter Rian sekeras-kerasnya.
“Auuuuu ...!” lengkingan suara serigala terdengar seolah menyahut jeritan Dokter Rian.
Dokter Rian menoleh. Di belakangnya telah berdiri tegak seekor serigala bermulut penuh tetesan darah.
“Serigala, bukan seekor anjing.” gumamnya.
Dokter Rian melirik jam tangannya.
Jam 12.47. Tiga belas menit lagi menuju  jam 13.00.


Kupang, 10 September 2017



(Terbit di Harian Umum ‘Victory News’ Edisi Minggu, 10 Desember 2017 Halaman 14)